Friday, April 17, 2026

Solid Gold Berjangka Makassar | Sentimen Geopolitik dan Suku Bunga Tahan Laju Emas

 Solid Gold Berjangka Makassar - Harga emas pada awal perdagangan tercatat di level US$4.793 per troy ons yang mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar yang tengah mencermati perkembangan negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran. Sentimen geopolitik masih menjadi faktor dominan, terutama setelah adanya pengumuman rencana gencatan senjata yang dijadwalkan berlaku dalam waktu dekat. Meski demikian, ketegangan di kawasan Timur Tengah belum sepenuhnya mereda dengan masih berlangsungnya blokade terhadap jalur pelayaran Iran yang berpotensi menjaga volatilitas harga energi global.

Dari sisi fundamental, pergerakan emas turut dipengaruhi oleh ekspektasi kebijakan moneter AS. Data terbaru menunjukkan pasar tenaga kerja masih relatif solid, tercermin dari penurunan klaim pengangguran mingguan yang mengindikasikan ketahanan ekonomi AS di tengah ketidakpastian global. Hal ini tercermin pada probabilitas pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve yang saat ini berada di kisaran 32%, menunjukkan ekspektasi pelonggaran yang masih terbatas. Di sisi lain, pergerakan dolar AS yang cenderung menguat turut menahan kenaikan emas, mengingat investor cenderung beralih ke aset berisiko maupun instrumen berbasis yield.

Ke depan, pergerakan emas diperkirakan akan tetap fluktuatif dipengaruhi oleh perkembangan lanjutan negosiasi AS–Iran serta rilis data ekonomi AS, termasuk data inflasi (CPI/PCE) dan indikator aktivitas ekonomi. Batas waktu gencatan senjata yang diperkirakan berakhir pada 21 April menjadi katalis penting yang dapat menentukan arah sentimen pasar selanjutnya.

Secara teknikal, level support terdekat untuk harga emas berada di kisaran $4.762 hingga $4.734, sedangkan resistance terdekat terletak di $4.828 hingga $4.866. Jika tekanan jual meningkat, support lebih dalam terlihat di $4.668, sementara resistance jangka menengah berada di area $4.932.

Thursday, April 16, 2026

Solid Gold Berjangka Makassar | AS Ancam Pembeli Minyak Iran, Harga Emas Hitam Kembali Menguat

 Solid Gold Berjangka Makassar - Harga minyak pagi ini terpantau bergerak terkoreksi menguat tipis didukung oleh ancaman sanksi AS terhadap pembeli minyak Iran, meningkatnya serangan Israel terhadap Lebanon, dan laporan stok EIA. Meski demikian, isyarat Iran untuk membuka jalur aman pelayaran membatasi kenaikan harga lebih lanjut.

AS pada hari Rabu mengancam akan memberikan sanksi sekunder kepada pembeli minyak Iran dan mengatakan bahwa mereka yakin China akan menghentikan pembelian tersebut karena Washington memberlakukan blokade maritim terhadap Iran. Selain itu, Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan bank-bank yang menangani dana Iran juga berisiko dikenakan sanksi.

Dukungan lainnya datang dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang pada hari Rabu mengatakan telah menginstruksikan pasukan militer untuk menyerang Hizbullah dan hampir berhasil menaklukkan apa yang ia sebut sebagai benteng milisi di Bint Jbeil. Aksi serangan yang terjadi di tengah berlangsungnya negosiasi gencatan senjata, memicu kekhawatiran akan kembali meningkatkan konflik antara Israel dengan Lebanon.

Dari sisi pasokan, dalam laporan yang dirilis Rabu malam oleh EIA menunjukkan stok minyak mentah AS turun sebesar 913.000 barel pada pekan yang berakhir 10 April, di luar ekspektasi awal yang memperkirakan stok akan naik sebesar 200.000 barel. Untuk stok bensin dilaporkan turun sebesar 6,3 juta barel, melebihi prediksi awal yang memperkirakan stok akan turun sebesar 2,1 juta barel. Laporan EIA itu mengindikasikan permintaan yang kuat di pasar energi AS.

Sementara itu, Iran kemungkinan akan bersedia untuk mengizinkan kapal berlayar bebas melalui sisi Oman di Selat Hormuz tanpa risiko serangan, apabila Washington siap untuk memenuhi tuntutan Teheran, ungkap sumber yang diberi informasi oleh Teheran. Meski demikian, masih belum jelas apakah proposal tersebut berlaku untuk semua kapal, terutama yang terkait dengan Israel.

Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $94 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $89 per barel.

Wednesday, April 15, 2026

Solid Gold Berjangka Makassar | Data PPI AS Redakan Tekanan Inflasi, Emas Bergerak Fluktuatif

 Solid Gold Berjangka - Harga emas pada awal perdagangan tercatat di level US$4.849 per troy ons, bergerak fluktuatif di tengah pelemahan dolar AS pasca rilis data inflasi produsen (PPI) AS yang lebih rendah dari ekspektasi pasar. Data menunjukkan PPI Maret naik sebesar 0,5% MoM dan 4,0% YoY, lebih rendah dibandingkan proyeksi konsensus masing-masing sebesar 1,1% dan 4,6%. Pelemahan indeks dolar turut meningkatkan daya tarik emas bagi investor global. Selain itu, penurunan harga minyak ke bawah US$90 per barel memberikan sinyal meredanya tekanan inflasi energi yang sebelumnya menjadi salah satu faktor utama volatilitas pasar.

Dari sisi sentimen, optimisme terhadap potensi gencatan senjata permanen antara AS dan Iran serta rencana lanjutan negosiasi dalam waktu dekat turut mendorong peningkatan risk appetite. Sementara itu, probabilitas penurunan suku bunga AS saat ini diperkirakan hanya sekitar 25%, jauh menurun dibandingkan ekspektasi sebelum konflik yang memperkirakan dua kali pemangkasan. 

Ke depan, pergerakan emas diperkirakan akan tetap sensitif terhadap perkembangan negosiasi geopolitik serta rilis data inflasi lanjutan seperti CPI dan PCE. Sikap The Fed yang cenderung wait and see membuka ruang bagi volatilitas, terutama jika tekanan inflasi kembali meningkat akibat dinamika energi. Di sisi lain, potensi perlambatan ekonomi global dapat menjadi katalis tambahan bagi emas dalam jangka menengah. 

Secara teknikal, level support terdekat untuk harga emas berada di kisaran $4.775 hingga $4.710, sedangkan resistance terdekat terletak di $4.876 hingga $4.912. Jika tekanan jual meningkat, support lebih dalam terlihat di $4.609, sementara resistance jangka menengah berada di area $5.013.

Monday, April 13, 2026

Solid Gold Berjangka Makassar | Konflik Timur Tengah Picu Ketidakastian, Emas Menguat Terbatas

 Solid Gold Berjangka Makassar - Harga emas naik pada level US$4.670 per troy ons pada awal sesi perdagangan hari ini, didorong meningkatnya ketidakpastian geopolitik setelah negosiasi lanjutan antara AS dan Iran berakhir tanpa kesepakatan. Kegagalan perundingan tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik yang lebih luas, termasuk risiko gangguan distribusi energi global melalui Selat Hormuz.

Meskipun sebelumnya sempat tercapai gencatan senjata dua pekan, minimnya kemajuan dalam pembicaraan lanjutan membuat sentimen pasar kembali beralih ke aset safe haven seperti emas, seiring meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar global.

Namun demikian, dari sisi fundamental, ruang penguatan emas masih terbatas. Penguatan dolar AS dan ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama menjadi faktor utama yang menekan pergerakan emas. Lonjakan harga energi akibat konflik turut meningkatkan risiko inflasi, yang pada akhirnya memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan moneter ketat. Faktor tambahan seperti aksi jual emas oleh beberapa negara juga turut membebani sentimen pasar.

Ke depan, pergerakan emas diperkirakan akan tetap volatil dengan kecenderungan bergerak terbatas, dipengaruhi oleh perkembangan negosiasi geopolitik serta arah kebijakan moneter global. Pasar akan mencermati rilis data inflasi AS (CPI dan PCE), serta indikator tenaga kerja sebagai penentu ekspektasi suku bunga. Di sisi lain, pergerakan dolar AS dan yield obligasi akan tetap menjadi variabel kunci dalam menentukan arah harga emas.

Secara teknikal, level support terdekat untuk harga emas berada di kisaran $4.721 hingga $4.694, sedangkan resistance terdekat terletak di $4.785 hingga $4.822. Jika tekanan jual meningkat, support lebih dalam terlihat di $4.630, sementara resistance jangka menengah berada di area $4.886.

Thursday, April 9, 2026

Solid Gold Berjangka Makassar | Pelanggaran Gencatan Senjata Lemahkan Harga Emas

 Solid Gold Berjangka Makassar - Harga emas turun pada level US$4.727 per troy ons pada awal sesi perdagangan hari ini, tertekan aksi profit taking setelah reli dalam dua hari sebelumnya. Tekanan tambahan datang dari kembali meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, menyusul pernyataan Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf yang menuding adanya pelanggaran kesepakatan gencatan senjata oleh pihak AS dan sekutunya. Ketegangan ini kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap keberlanjutan proses negosiasi damai, serta meningkatkan risiko eskalasi konflik yang dapat berdampak pada stabilitas global.

Dari sisi pasar keuangan, sentimen negatif terhadap emas diperkuat oleh pergerakan dolar AS dan imbal hasil obligasi yang mulai pulih, setelah sebelumnya melemah. Kondisi ini mengurangi daya tarik emas sebagai aset non-yielding. Selain itu, ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve kembali mengalami penyesuaian dengan probabilitas penurunan suku bunga pada akhir 2026 kini diperkirakan kurang dari 33%. Perubahan ekspektasi ini terjadi seiring meningkatnya risiko inflasi akibat dinamika harga energi, meskipun sebelumnya sempat mereda.

Ke depan, pergerakan emas diperkirakan akan tetap volatil, dipengaruhi oleh perkembangan konflik Timur Tengah serta arah kebijakan moneter global. Pasar akan mencermati rilis data inflasi AS seperti CPI dan PCE, serta risalah FOMC untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut terkait kebijakan suku bunga. Selain itu, pergerakan harga minyak dan dinamika dolar AS akan menjadi faktor kunci dalam menentukan arah emas. 

Secara teknikal, level support terdekat untuk harga emas berada di kisaran $4.659 hingga $4.599, sedangkan resistance terdekat terletak di $4.818 hingga $4.917. Jika tekanan jual meningkat, support lebih dalam terlihat di $4.440, sementara resistance jangka menengah berada di area $5.076.

Wednesday, April 8, 2026

Solid Gold Berjangka Makassar | AS - Iran Sepakati Damai Dua Minggu, Laju Minyak Ikut Meredup

 Solid Gold Berjangka Makassar - Harga minyak pagi ini terpantau bergerak turun tajam lebih dari 11% dipicu oleh sentimen dari kesepakatan gencatan senjata antara AS dengan Iran, dan dibukanya kembali jalur Selat Hormuz. Selain itu, isyarat pulihnya ekspor minyak Irak dan rilisnya laporan stok API juga turut menjadi katalis yang membatasi pergerakan harga.

Presiden AS Donald Trump pada hari Selasa mengumumkan setuju untuk menangguhkan pemboman dan serangan terhadap Iran selama 2 minggu, dengan syarat dibukanya Selat Hormuz sepenuhnya, segera, dan dengan aman. Menyusul setelahnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengkonfirmasi akan mengizinkan kapal-kapal untuk melewati Selat Hormuz dengan aman selama periode itu. Selain itu, AS dan Iran juga dijadwalkan akan melakukan putaran pertama pembicaraan langsung pada 10 April di ibu kota Pakistan, Islamabad.

Turut membebani harga, kepala perusahaan minyak milik negara Basra Oil Company, Bassem Abdul Karim, pada hari Selasa menyatakan dengan optimis bahwa Irak dapat melanjutkan ekspor minyaknya sebesar 3,4 juta bph dalam waktu satu minggu jika Selat Hormuz dibuka kembali. Bulan lalu, produksi minyak dari produsen terbesar kedua OPEC itu dilaporkan turun sekitar 80% menjadi 800.000 bph karena perang yang menyebabkan tidak dapat mengekspor dan tangki penyimpanan penuh.

Dari sisi pasokan, dalam laporan terbaru yang dirilis oleh grup industri API menunjukkan persediaan minyak mentah AS melonjak sebesar 3,72 juta barel pada pekan yang berakhir 3 April, yang sekaligus menandai peningkatan stok selama empat pekan berturut-turut. Laporan API tersebut mengindikasikan permintaan yang lesu di pasar minyak AS. Meski demikian, pelaku masih menantikan rilisnya laporan stok resmi versi pemerintah yang akan dirilis oleh EIA pada Rabu malam.

Sementara itu, AS akan mengupayakan stabilitas hubungan ekonomi dan perdagangan dengan China dalam pertemuan bulan depan antara Trump dengan Xi Jinping, kata Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer pada hari Selasa. Komentar Greer tersebut mengisyaratkan tidak akan terjadi konfrontasi dagang antara AS dengan China dalam waktu dekat.

Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $98 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $93 per barel.

Tuesday, April 7, 2026

Solid Gold Berjangka Makassar | Emas Turun, Tertekan Ketidakpastian AS–Iran

 Solid Gold Berjangka Makassar - Harga emas turun pada level US$4.661 per troy ons pada awal sesi perdagangan hari ini, di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik setelah Iran menolak proposal gencatan senjata dengan AS. Ketegangan meningkat seiring ultimatum Trump yang menuntut pembukaan kembali Selat Hormuz dengan batas waktu tertentu. Meski terdapat upaya mediasi yang mengarah pada skema gencatan senjata 15–45 hari, sikap Iran yang menolak solusi sementara dan mendorong penyelesaian permanen memperpanjang ketidakpastian pasar. Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung bersikap wait and see, sembari mencermati potensi eskalasi lanjutan dan dampaknya terhadap stabilitas energi global.

Dari sisi fundamental, lonjakan harga energi akibat terganggunya distribusi minyak memperkuat kekhawatiran inflasi global yang pada akhirnya mendorong ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama. Lingkungan suku bunga tinggi ini menekan daya tarik emas sebagai aset non-yielding, di tengah penguatan dolar AS dan kenaikan yield obligasi pemerintah AS. Selain itu, data ekonomi AS yang relatif solid turut memperkuat pandangan bahwa ruang penurunan suku bunga oleh Federal Reserve semakin terbatas dalam jangka pendek.

Ke depan, pergerakan emas diperkirakan tetap volatil dengan kecenderungan dipengaruhi oleh perkembangan negosiasi AS–Iran serta arah kebijakan moneter global. Pasar akan mencermati rilis risalah FOMC, data inflasi utama seperti CPI dan PCE, serta indikator ketenagakerjaan sebagai penentu ekspektasi suku bunga. Selain itu, dinamika di Selat Hormuz dan pergerakan harga minyak akan menjadi katalis penting bagi inflasi global. 

Secara teknikal, level support terdekat untuk harga emas berada di kisaran $4.597 hingga $4.546, sedangkan resistance terdekat terletak di $4.703 hingga $4.758. Jika tekanan jual meningkat, support lebih dalam terlihat di $4.440, sementara resistance jangka menengah berada di area $4.864.

Monday, April 6, 2026

Solid Gold Berjangka Makassar | Konflik Timur Tengah Memanas, Namun Emas Justru Tertekan

 Solid Gold Berjangka Makassar - Harga emas turun pada level US$4.638 per troy ons pada awal sesi perdagangan hari ini, di tengah kembali meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengancam Iran untuk segera membuka Selat Hormuz memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan jalur energi global. Namun demikian, eskalasi konflik tersebut tidak serta-merta mendorong penguatan emas, seiring dominasi sentimen makro yang lebih kuat. Ketidakpastian terkait respons Iran, yang dilaporkan masih melanjutkan aktivitas militernya di kawasan turut memperpanjang tekanan pada pasar energi dan meningkatkan volatilitas global.

Dari sisi fundamental, lonjakan harga energi memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi, namun justru memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama. Data tenaga kerja AS yang solid turut memperkuat pandangan tersebut, dengan nonfarm payrolls Maret tercatat meningkat sebesar 178.000, tertinggi sejak Desember 2024, serta tingkat pengangguran turun ke 4,3%. Kondisi ini mendorong kenaikan yield obligasi AS dan penguatan dolar, sehingga mengurangi daya tarik emas sebagai aset non-yielding. Aliran dana global pun cenderung beralih ke dolar AS yang saat ini dipandang sebagai safe haven utama dalam jangka pendek.

Ke depan, pergerakan emas diperkirakan masih berada dalam tekanan selama kombinasi penguatan dolar dan ekspektasi suku bunga tinggi tetap mendominasi. Pasar akan mencermati rilis data inflasi AS (CPI) serta perkembangan lanjutan dari konflik Timur Tengah sebagai katalis utama. Pernyataan pejabat The Fed, termasuk indikasi dari Austan Goolsbee terkait tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi juga akan menjadi perhatian investor. 

Secara teknikal, level support terdekat untuk harga emas berada di kisaran $4.553 hingga $4.429, sedangkan resistance terdekat terletak di $4.800 hingga $4.923. Jika tekanan jual meningkat, support lebih dalam terlihat di $4.182, sementara resistance jangka menengah berada di area $5.170.

Thursday, April 2, 2026

Solid Gold Berjangka Makassar | Harga Emas Diproyeksi Naik, Analis Sebut Masih Bisa Tembus US$ 6.000

 Solid Gold Berjangka Makassar - Prospek harga emas kian moncer di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings, menaikkan asumsi harga logam dan komoditas tambang untuk tahun 2026, termasuk emas.Revisi ini dinilai sejalan dengan kondisi pasar saat ini yang dipenuhi sentimen risiko geopolitik dan tekanan inflasi.

Untuk komoditas emas, Fitch mencatat harga aktual 2025 sebesar US$ 3.431 per ons troi. Kemudian dinaikkan proyeksi harganya seiring derasnya permintaan di pasar global.

Proyeksi lama Fitch harga emas pada 2026 sebesar US$ 3.400 kini direvisi signifikan menjadi US$ 4.500 per ons troi.

Tiffani Safinia, Research & Development ICDX, menilai revisi proyeksi harga emas oleh Fitch Ratings menjadi US$ 4.500 per ons troi pada 2026 merupakan langkah yang wajar.

Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya permintaan aset safe haven seiring eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Menurutnya, ketegangan geopolitik tersebut turut memicu gangguan pasokan energi global, terutama di jalur strategis seperti Selat Hormuz.

Kondisi ini berdampak pada kenaikan harga energi dan mendorong ekspektasi inflasi, sehingga memperkuat daya tarik emas sebagai instrumen lindung nilai.

"Selain itu, dukungan juga datang dari pembelian agresif bank sentral dan tren diversifikasi cadangan devisa yang menopang prospek harga emas dalam jangka menengah hingga panjang," jelas Tiffani kepada Kontan, Rabu (1/4/2026).

Sejalan dengan kondisi tersebut, Tiffani pun memproyeksikan harga emas berpotensi melesat lebih tinggi.

Ia memperkirakan harga emas dapat berada di kisaran US$ 5.500 - US$ 6.000 per ons troi hingga akhir 2026.

Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa dalam jangka pendek, harga emas masih berpotensi mengalami koreksi. Hal ini terutama jika data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan ketahanan yang kuat dan mendorong ekspektasi suku bunga tetap tinggi.

“Meskipun outlook jangka menengah cenderung bullish, volatilitas jangka pendek tetap perlu diantisipasi oleh pelaku pasar,” ujarnya.

Dalam kondisi pasar yang fluktuatif, strategi investasi emas sebaiknya dilakukan secara bertahap. Tiffani menyarankan investor melakukan akumulasi saat terjadi koreksi harga, sekaligus menerapkan diversifikasi portofolio.

Ia menambahkan, pergerakan harga emas sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik, inflasi, serta arah kebijakan suku bunga global.

Oleh karena itu, pemantauan terhadap data ekonomi AS menjadi salah satu kunci dalam pengambilan keputusan investasi.

Pendekatan yang disiplin, berbasis data, serta manajemen risiko yang baik menjadi kunci utama dalam mengoptimalkan potensi imbal hasil di tengah dinamika pasar global saat ini.

Wednesday, April 1, 2026

Solid Gold Berjangka Makassar | EURUSD Lanjutkan Reli, Sentimen Geopolitik Tekan Dolar AS

 Solid Gold Berjangka Makassar - Pasangan mata uang ini bergerak menguat di level 1.1564 melanjutkan tren penguatannya untuk hari kedua berturut-turut pada sesi Asia hari Rabu. Pergerakan ini didorong oleh pelemahan Dolar AS, seiring menurunnya permintaan terhadap aset safe-haven setelah ketegangan di Timur Tengah mulai mereda. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan bahwa negaranya akan segera menarik diri dari konflik dengan Iran, dengan estimasi waktu dalam dua hingga tiga minggu. Pernyataan ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa konflik dapat segera mereda karena tujuan strategis AS dinilai telah tercapai.

Trump juga menegaskan bahwa penghentian konflik tidak harus bergantung pada kesepakatan formal dengan Iran. Ia menilai bahwa situasi dapat diselesaikan berdasarkan hasil di lapangan tanpa perlu melalui jalur diplomasi. Di sisi lain, Iran menunjukkan sikap yang beragam, di mana Presiden Masoud Pezeshkian membuka peluang de-eskalasi jika ada jaminan tertentu, sementara Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan bahwa Iran menginginkan penghentian perang secara permanen, bukan sekadar gencatan senjata sementara. Perbedaan sikap ini menunjukkan bahwa ketidakpastian terkait penyelesaian konflik masih tetap ada.

Sementara itu, data inflasi di kawasan Euro mencatat kenaikan sebesar 2,5% secara tahunan pada bulan Maret, lebih rendah dari ekspektasi pasar. Inflasi inti juga berada di bawah perkiraan, meskipun tetap mencerminkan tekanan harga yang masih bertahan, terutama akibat kenaikan biaya energi yang dipicu konflik geopolitik. Pihak Bank Sentral Eropa mengindikasikan bahwa kondisi ini berpotensi mendorong kebijakan moneter yang lebih ketat. Namun demikian, arah kebijakan ke depan akan sangat bergantung pada sejauh mana dampak gangguan energi dari konflik tersebut berlanjut. Pasangan mata uang ini memiliki support di 1.1520 dan resistance di 1.1600.

GBPUSD - Pasangan mata uang ini menguat di level 1.3235 pada perdagangan hari Rabu, didorong oleh membaiknya sentimen pasar global seiring meningkatnya harapan akan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Optimisme tersebut mendorong minat terhadap aset berisiko, termasuk poundsterling, sehingga memberikan tekanan pada Dolar AS dan mendukung kenaikan GBPUSD.

Meski demikian, penguatan yang terjadi masih relatif terbatas karena pelaku pasar tetap berhati-hati di tengah ketidakpastian yang belum sepenuhnya hilang. Minimnya rilis data ekonomi dari Inggris membuat pergerakan pasangan ini lebih dipengaruhi oleh dinamika eksternal, khususnya data ekonomi Amerika Serikat serta arah kebijakan The Fed. Fokus pasar saat ini tertuju pada rilis data tenaga kerja dan indikator ekonomi utama AS yang berpotensi menjadi katalis pergerakan lanjutan GBPUSD dalam jangka pendek. Pasangan mata uang ini memiliki support di 1.3180 dan resistance di 1.3280.

AUDUSD - Pasangan mata uang ini bergerak di area 0,6924. Penguatan ini didukung oleh membaiknya sentimen pasar global seiring meningkatnya harapan akan meredanya konflik di Timur Tengah. Pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai potensi penghentian operasi militer terhadap Iran dalam beberapa minggu ke depan turut mendorong optimisme investor. Kondisi ini tercermin dari penguatan pasar saham global yang sekaligus mengurangi daya tarik Dolar AS sebagai aset safe-haven, sehingga memberikan dorongan bagi kenaikan AUDUSD.

Di sisi lain, Dolar Australia tetap ditopang oleh prospek kebijakan moneter yang cenderung ketat dari Reserve Bank of Australia (RBA), dengan risalah pertemuan terakhir mengindikasikan peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut. Dukungan tambahan juga datang dari data PMI China yang menunjukkan tanda-tanda stabilisasi ekonomi, mengingat eratnya hubungan perdagangan dengan Australia. Sementara itu, meredanya ketegangan geopolitik turut menekan harga minyak dan meredakan kekhawatiran inflasi, yang pada akhirnya mengurangi ekspektasi pengetatan kebijakan oleh The Fed dan melemahkan Dolar AS. Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada rilis data ekonomi AS yang akan datang sebagai penentu arah pergerakan berikutnya. Pasangan mata uang ini memiliki support di 0.6880 dan resistance di 0.6950.

NZDUSD - Pasangan mata uang ini diperdagangkan di sekitar level 0,5747 pada awal sesi Asia hari Rabu, menunjukkan kecenderungan penguatan. Pergerakan ini mencerminkan sentimen pasar yang lebih positif terhadap mata uang berisiko, sehingga mendorong pasangan ini bergerak naik.

Di sisi lain, Dolar AS melemah setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeluarkan ancaman untuk menargetkan perusahaan-perusahaan Amerika Serikat yang beroperasi di kawasan sebagai bentuk balasan atas serangan sebelumnya. Ancaman yang mencakup perusahaan besar seperti Microsoft, Apple, Google, Intel, dan Boeing tersebut memicu perubahan sentimen pasar dan menekan Dolar AS, meskipun mata uang ini biasanya diuntungkan sebagai aset safe-haven. Pasangan mata uang ini memiliki support di 0.5710 dan resistance di 0.5780.

USDJPY - Pasangan USDJPY mengalami pemulihan tipis setelah sempat menyentuh level terendah dalam lebih dari sepekan di kisaran 158,79 pada sesi Asia hari Rabu, meskipun penguatannya masih terbatas. Saat ini, harga bergerak di bawah level 159,00 dan cenderung stabil, seiring pelaku pasar masih mencermati kemungkinan keluarnya Amerika Serikat dari konflik dengan Iran serta menunggu perkembangan geopolitik terbaru sebagai pendorong arah pergerakan selanjutnya.

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa negaranya akan mulai mengurangi intensitas konflik dengan Iran dalam dua hingga tiga minggu ke depan, serta menegaskan bahwa Iran tidak harus mencapai kesepakatan dengan Washington untuk mengakhiri konflik. Pernyataan ini memicu harapan akan meredanya ketegangan di Timur Tengah dan mendorong sentimen pasar yang lebih positif, sehingga mengurangi kekuatan Dolar AS dan membatasi kenaikan USDJPY.

Di sisi lain, survei Tankan Bank of Japan menunjukkan adanya perbaikan sentimen bisnis di kalangan produsen besar hingga Maret, dengan indeks kepercayaan meningkat menjadi 17 level tertinggi sejak Desember 2021. Hal ini turut menopang Yen Jepang dan menahan penguatan lebih lanjut pada USDJPY. Namun demikian, pejabat BoJ menyebutkan bahwa survei tersebut belum sepenuhnya mencerminkan dampak konflik Timur Tengah. Risiko tambahan juga muncul dari potensi eskalasi kawasan, termasuk upaya membuka kembali Selat Hormuz melalui jalur militer. Mengingat ketergantungan Jepang terhadap impor energi dari kawasan tersebut, situasi ini berpotensi menekan prospek ekonomi Jepang dan membatasi penguatan Yen. Oleh karena itu, kondisi fundamental yang beragam membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati, sambil menantikan rilis data ekonomi penting AS seperti ADP dan PMI manufaktur ISM sebagai katalis jangka pendek. Pasangan mata uang ini memiliki support di 158.50 dan resistance di 159.80.

USDCHF - Pasangan mata uang ini bergerak melemah di level 0.7978 dibandingkan dengan penutupan sebelumnya di level 0.8000, melanjutkan tekanan setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi. Pelemahan ini terjadi seiring meredanya permintaan terhadap Dolar AS, di tengah meningkatnya ekspektasi de-eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong pergeseran sentimen pasar ke arah yang lebih konstruktif.

Dari sisi teknikal, meskipun tren jangka menengah masih cenderung positif setelah harga bertahan di atas level rata-rata pergerakan 200-hari (SMA) di sekitar 0,7940, momentum jangka pendek menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Jika tekanan berlanjut, area support berada di level 0,7960 dan resistance berada di level 0,8000.

USDCAD - Pasangan mata uang ini kembali bergerak melemah untuk hari kedua berturut-turut, dengan pergerakan di sekitar level 1,3905 pada hari Rabu. Tekanan pada pasangan ini berasal dari penguatan Dolar Kanada yang didukung oleh kenaikan harga minyak, seiring peran Kanada sebagai pemasok utama minyak mentah ke Amerika Serikat. Harga minyak WTI mengalami pemulihan setelah penurunan tajam pada sesi sebelumnya dan kini berada di kisaran USD 98,60 per barel. Penguatan harga minyak dipicu oleh inisiatif Uni Emirat Arab yang mendorong resolusi Dewan Keamanan PBB untuk mengamankan jalur pelayaran strategis, yang turut meningkatkan potensi eskalasi konflik di kawasan.

Di sisi lain, Dolar AS juga mengalami pelemahan akibat meningkatnya optimisme pasar terhadap kemungkinan meredanya ketegangan di Timur Tengah. Pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai rencana penarikan pasukan dalam beberapa minggu ke depan memperkuat harapan akan de-eskalasi konflik. Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan kesiapan untuk menurunkan tensi konflik dengan syarat tertentu. Kombinasi faktor ini mendorong sentimen positif di pasar dan memberikan tekanan tambahan pada pergerakan USDCAD. Pasangan mata uang ini memiliki support di 1.3850 dan resistance di 1.3950.